tradisi menenun
Walaupun zaman telah berkembang sedemikian rupa, namun masyarakat dengan warisan tradisi yang kuat semakin sadar akan potensi wisata di daerahnya. tida terkecuali masyarakat desa adat Sade yang merupakan salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Jika mendengar kata "Lombok" pasti yang terbersit di benak yaitu pulau dengan sekian banyak wisata alam dan bahari. Anda jangan salah! Pulau Lombok tidak hanya kaya akan wisata alam dan bahari, tapi wisata budaya juga. Desa adat Sade bisa menjadi contoh yang sempurna. Banyak wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut untuk menikmati dan belajar tentang kebudayaan asli suku Sasak.
Salah satu kebudayaan yang terus diwariskan tersebut adalah keterampilan menenum. Keterampilan menenun merupakan salah satu kegiatan yang dapat dijumpai di setiap sudut dari Desa Sade. Menurut aturan adat setempat, seorang anak gadis yang sudah berumur
9-11 tahun harus belajar menenun. Anak yang sudah berumur 11-15 tahun yang
mampu membuat satu songket atau bahkan menambahkan motif tertentu pada kain akan
diperebutkan oleh laki-laki yang ada di kampung desa sade ini.

Pada hasil jepretan saya ini, tentu perempuan yang menjadi model tidak muda lagi. karena itu, saya menyebutnya "perempuan senja". Menenun bukan lagi untuk menarik perhatian laki-laki. Namun, sudah jadi bagian dari diri perempuan senja ini. Tak terbayangkan lagi, betapa sabarnya beliau memangku benang dan dengan begitu kretifnya menyelaraskan warna-warna menjadi satu-kesatuan yang utuh hingga menjadi sehelai kain. Dari penglihatan mata dan hasil tangkapan kamera, betapa jelasnya bahagia itu sederhana. Di samping perempuan senja dan alat sederhananya ini, kita bisa melihat kain-kain ditata sedemikian rupa -menyerupai pameran warna-warna, mewarnai rumah beratap rumbia berwarna kecoklatan yang mampu membuat langkah kaki terhenti sejenak. Perempuan senja adalah ibu. Sedang benang-benang adalah anaknya. Sehelai kain adalah perwujudan dari seorang ibu yang membesarkan anaknya dengan kasih sayang sedemikian rupa hingga menjadi seseorang yang mempunyai kualitas.
Pada hasil jepretan saya ini, tentu perempuan yang menjadi model tidak muda lagi. karena itu, saya menyebutnya "perempuan senja". Menenun bukan lagi untuk menarik perhatian laki-laki. Namun, sudah jadi bagian dari diri perempuan senja ini. Tak terbayangkan lagi, betapa sabarnya beliau memangku benang dan dengan begitu kretifnya menyelaraskan warna-warna menjadi satu-kesatuan yang utuh hingga menjadi sehelai kain. Dari penglihatan mata dan hasil tangkapan kamera, betapa jelasnya bahagia itu sederhana. Di samping perempuan senja dan alat sederhananya ini, kita bisa melihat kain-kain ditata sedemikian rupa -menyerupai pameran warna-warna, mewarnai rumah beratap rumbia berwarna kecoklatan yang mampu membuat langkah kaki terhenti sejenak. Perempuan senja adalah ibu. Sedang benang-benang adalah anaknya. Sehelai kain adalah perwujudan dari seorang ibu yang membesarkan anaknya dengan kasih sayang sedemikian rupa hingga menjadi seseorang yang mempunyai kualitas.
Keren tamtam, kata kuncinya " bahagia itu sederhana" tak peduli tentang apa dan bagaimana hidup ini berjalan, intinya percaya bila bahagia itu ada...
BalasHapusTradisi yang harus slalu kita lestarikan demi kebudayaan dan terimakasih telah membagi informasih tentang kebudayaan sasak π
BalasHapusPostingan yg sangat menarik. Di beberapa daerah di NTB juga banyak di temui tradisi seperti ini, namun berbeda motif dan corak dr kainnya tersebut...terimakasih postingan yg sangat menambah wawasan.
BalasHapusAku suka cara pagi membuat bening matamu seperti tak bertepi.
BalasHapusKerenππ
BalasHapusIlmu yang sangat bermanfaatπ
Apakah ketika seorang wanita menenun itu apakah harus dewasa dulu atau di ajarkan sejak dini kpda anakny?
BalasHapusMonggo dibaca kak ππ dari 9-11 tahun kak sdh ditanmkn
HapusInformasinya menarikπ
BalasHapusTradisi menenun merupakan satu satunya tradisi yg masih paling kental di lombok tengah yg hanya dapat dilihat pada pedalaman desa Sade..
BalasHapusTerima kasih informasinya :)
Makasih infonya π
BalasHapusJadi pengen ke desa Sade, belajar menenun...
Menenun itu butuh kesabaran dan ketelitian yg besar. Salut sma org2 yg mnenun ituππ
BalasHapusWow informasinya menarik sekali π
BalasHapusMana tradisi di malang ni π bagi bagi dong
HapusMana tradisi di malang ni π bagi bagi dong
HapusWah luar biasa, klo belajar menenun kira2 berapa bulan yah., .jadi mau blajar nenun..... luar biasa.
BalasHapusArtikel yg cukup membuka mata akan estetisnya kebudayaan indonesia. Setau sya ada beberapa makna (suku sasak) tersendiri mengapa wanita di lombok menenun di samping hal tersebut merupaka suatu kewajiban bagi mereka dalam hal menenun. Mungkin alangkah baiknya jika lebih digali lagi informasi mengenai suatu pembahasan agar pembaca memperoleh informasi secara keseluruhan. ππ
BalasHapusKeren bnget. Makasih ya ilmunya,bermanfaat bnget ini π
BalasHapusMenenun.Apakah menenun hanya diajarkan masyarakat di desa Sade saja ..?padahal banyak sekali suku Sasak tapi jarang sekali saya menemukan orang2 yg bisa menenun terutama suku Sasak hanya sebagian kecil saja...
BalasHapusJadi pengen belajar bertenunn... tetima kasih ya infonya
BalasHapusAlhamdukillah, terimakasih , artikelnya sangat bermanfaat. Denngan menenun kiba belajar tentang lebih teliti dan sabar..
BalasHapusbersabar memang sangat dibutuhkan saat merajut benang demi benang, itulah menenun. terimakasih banyak infonya.
BalasHapus